Silewo News. - KABUPATEN Soppeng yang berjuluk Bumi Latemmamala, genap berusia 752 tahun pada 23 Maret lalu. Apa yang telah ditorehkan
Soppeng di usia yang tidak lagi mudah itu? Berikut catatannya.
Bumi Latemmamala lahir di zaman kerajaan. Pemerintahan mulai terbentuk di bawah kendali seorang raja bergelar Manurungge Ri Sekkang Nyili atau Latemmamala pada tahun 1261.
Tahun tersebut kemudian menjadi patokan dalam penetapan Hari Jadi Soppeng. Sebagaimana hasil Keputusan DPRD Soppeng pada 12 Maret 2001, Hari Jadi Soppeng ditetapkan jatuh pada tanggal 23 Maret.
Sampai pada masa terbentuknya pemerintahan daerah, Bupati Soppeng pertama adalah HA Wana yang bergelar Datu Soppeng pada periode 1957. Setelah itu secara berturut turut Soppeng dipimpin oleh HA Machmud pada periode 1960-1964, disusul HA Made Alie pada 1965-1979, kemudian Djamaluddin M di tahun 1979-1984.
Tahun 1984-1990, Soppeng dipimpin oleh H Umar Lakunnu, lalu digantikan oleh H Abbas Sabbi pada 1990-1995, Drs HA Paeruddin Saisal pada 1995-2000 yang merupakan titik awal pergentian rezim dari Orde Baru ke reformasi.
Pada tahun 2000-2005, Soppeng dipimpin Bupati HA Harta Sanjaya dan kemudian digantikan HA Soetomo pada 2005-Sekarang. Soetomo memimpin Soppeng dalam dua periode.
Dari
Soppeng mencatat kemajuan besar sejak tahun 2005. Selain perubahan sistem pemerintahan, daerah ini juga mengalami kemajuan di sektor ekonomi dan swasembada dalam angka relatif tinggi.
Atas semua ini, Soppeng telah berhasil mengantongi 57 penghargaan tingkat nasional dalam kurun waktu delapan tahun. "Ini penghargaan dari kerja keras pemerintah dan masyarakat Soppeng," ujar Soetomo.
Meskipun berbagai prestasi telah diraih, Soetomo tetap berpegang pada filosofi alam bahwa "Menjadi akar adalah sifat sejati seorang pekerja. Walaupun berada jauh di bawah tanah, ia rela tak terlihat dalam kegelapan, tak pernah mengeluh, tapi dengan kuat menghujam ke dalam bumi, dan tak pernah bosan menyangga batang batang hingga memberi buah yang lezat. Ia tak pernah berhenti mengajarkan keikhlasan yang sejati, tak perlu dilihat, tak perlu dipuji, tetapi dengan tulus melakukan tugasnya dengan baik,".
Dalam bekerja, Soetomo memegang prinsip kebersamaan. Ia mengatakan membangun pemerintahan itu harus dimulai dari dalam tubuh pemerintah sendiri.
"Artinya mental dan kualitas aparatur dibenahi lebih dulu, setelah itu program dijalankan. Dengan kualitas SDM yang baik, kita akan menghasilkan program yang bermutu pula," katanya.
Soetomo menyampaikan bahwa untuk mewujudkan Soppeng menjadi daerah makmur, masyarakat harus lebih banyak dilibatkan dalam pembangunan. Masyarakat harus jadi lokomotif.
Reformasi telah memberi ruang kepada masyarakat agar menjadi pelaku utama dalam membangun daerah. "Saya selalu katakan, tanpa peran masyarakat, kita tidak akan maju. Jadi harus kita bingkai pembangunan ini lewat kebersamaan. Itulah yang saya sebut Yassisoppengi,' papar Soetomo.
Soetomo mengakui, tidak mudah memuaskan semua pihak. Sudah menjadi realitas bahwa pembangunan itu harus dilakuka berkesinambungan untuk sampai pada tujuan.
Apalagi, dengan segala keterbasan waktu dan anggaran, maka tentu tidak bisa dikatakan apa yang dicapai Soppeng hari ini sudah sempurna. "Tidak, kita masih butuh lompatan-lompatan besar ke depan. Kita masih harus bekerja keras untuk hidup lebih baik," katanya.
Tetapi paling tidak kata Soetomo, Soppeng sudah memiliki pondasi yang kuat. Tinggal sekarang bagaimana rakyat dan pemerintah menyatukan visi untuk mencapai kesejahteraan.
Inilah yang ia sebut karakter Yassisoppengi. Artinya semua orang Soppeng harus satu tujuan. Harus bersatu dalam bekerja dan juga bersatu dalam menikmati hasil-hasil pembangunan.
"Ini yang disebut pemerataan. Warga yang ada di kota dan di desa, sama-sama merasakan hasil pembangunan. Itu wujud filosofi Yassisoppengi," kunci Soetomo.
Bumi Latemmamala lahir di zaman kerajaan. Pemerintahan mulai terbentuk di bawah kendali seorang raja bergelar Manurungge Ri Sekkang Nyili atau Latemmamala pada tahun 1261.
Tahun tersebut kemudian menjadi patokan dalam penetapan Hari Jadi Soppeng. Sebagaimana hasil Keputusan DPRD Soppeng pada 12 Maret 2001, Hari Jadi Soppeng ditetapkan jatuh pada tanggal 23 Maret.
Sampai pada masa terbentuknya pemerintahan daerah, Bupati Soppeng pertama adalah HA Wana yang bergelar Datu Soppeng pada periode 1957. Setelah itu secara berturut turut Soppeng dipimpin oleh HA Machmud pada periode 1960-1964, disusul HA Made Alie pada 1965-1979, kemudian Djamaluddin M di tahun 1979-1984.
Tahun 1984-1990, Soppeng dipimpin oleh H Umar Lakunnu, lalu digantikan oleh H Abbas Sabbi pada 1990-1995, Drs HA Paeruddin Saisal pada 1995-2000 yang merupakan titik awal pergentian rezim dari Orde Baru ke reformasi.
Pada tahun 2000-2005, Soppeng dipimpin Bupati HA Harta Sanjaya dan kemudian digantikan HA Soetomo pada 2005-Sekarang. Soetomo memimpin Soppeng dalam dua periode.
Dari
Soppeng mencatat kemajuan besar sejak tahun 2005. Selain perubahan sistem pemerintahan, daerah ini juga mengalami kemajuan di sektor ekonomi dan swasembada dalam angka relatif tinggi.
Atas semua ini, Soppeng telah berhasil mengantongi 57 penghargaan tingkat nasional dalam kurun waktu delapan tahun. "Ini penghargaan dari kerja keras pemerintah dan masyarakat Soppeng," ujar Soetomo.
Meskipun berbagai prestasi telah diraih, Soetomo tetap berpegang pada filosofi alam bahwa "Menjadi akar adalah sifat sejati seorang pekerja. Walaupun berada jauh di bawah tanah, ia rela tak terlihat dalam kegelapan, tak pernah mengeluh, tapi dengan kuat menghujam ke dalam bumi, dan tak pernah bosan menyangga batang batang hingga memberi buah yang lezat. Ia tak pernah berhenti mengajarkan keikhlasan yang sejati, tak perlu dilihat, tak perlu dipuji, tetapi dengan tulus melakukan tugasnya dengan baik,".
Dalam bekerja, Soetomo memegang prinsip kebersamaan. Ia mengatakan membangun pemerintahan itu harus dimulai dari dalam tubuh pemerintah sendiri.
"Artinya mental dan kualitas aparatur dibenahi lebih dulu, setelah itu program dijalankan. Dengan kualitas SDM yang baik, kita akan menghasilkan program yang bermutu pula," katanya.
Soetomo menyampaikan bahwa untuk mewujudkan Soppeng menjadi daerah makmur, masyarakat harus lebih banyak dilibatkan dalam pembangunan. Masyarakat harus jadi lokomotif.
Reformasi telah memberi ruang kepada masyarakat agar menjadi pelaku utama dalam membangun daerah. "Saya selalu katakan, tanpa peran masyarakat, kita tidak akan maju. Jadi harus kita bingkai pembangunan ini lewat kebersamaan. Itulah yang saya sebut Yassisoppengi,' papar Soetomo.
Soetomo mengakui, tidak mudah memuaskan semua pihak. Sudah menjadi realitas bahwa pembangunan itu harus dilakuka berkesinambungan untuk sampai pada tujuan.
Apalagi, dengan segala keterbasan waktu dan anggaran, maka tentu tidak bisa dikatakan apa yang dicapai Soppeng hari ini sudah sempurna. "Tidak, kita masih butuh lompatan-lompatan besar ke depan. Kita masih harus bekerja keras untuk hidup lebih baik," katanya.
Tetapi paling tidak kata Soetomo, Soppeng sudah memiliki pondasi yang kuat. Tinggal sekarang bagaimana rakyat dan pemerintah menyatukan visi untuk mencapai kesejahteraan.
Inilah yang ia sebut karakter Yassisoppengi. Artinya semua orang Soppeng harus satu tujuan. Harus bersatu dalam bekerja dan juga bersatu dalam menikmati hasil-hasil pembangunan.
"Ini yang disebut pemerataan. Warga yang ada di kota dan di desa, sama-sama merasakan hasil pembangunan. Itu wujud filosofi Yassisoppengi," kunci Soetomo.
Sumber : beritakota
Posting Komentar