BREAKING

Senin, 11 Februari 2013

Pensiunan Guru yang Tetap Aktif Berkarya


NAMANYA cukup familiar di kalangan guru di Enrekang. Selain karena lebih seperdua perjalanan hidupnya diabadikan di dunia pendidikan, Hj St Rahmatia MBe juga aktif membuat tulisan maupun modul pelajaran bahasa daerah. 

UKURAN rumahnya sederhana namun cukup strategis. St Rahmatia tinggal di Jl Sultan Hasanuddin No.75 Kelurahan Puserren, Enrekang. Persis di jalur poros Enrekang-Toraja di depan Kantor Dinas Kesehatan. 

Saat ditemui, Kamis, 20 September lalu, dia tengah berbincang serius dengan salah seorang legislator Enrekang, M Zainal, terkait perkembangan kearifan lokal di Enrekang saat ini. Di sisi ruang tamu rumahnya yang berukuran sekira 4x3 meter, terdapat sebuah lemari kaca berisi ratusan karya tulis, buku maupun modul pelajaran siswa yang telah dicetak rapi. 

Tiga di antaranya saat ini masih digunakan sebagai panduan khusus untuk muatan lokal terutama pada tingkat usia dini dan SD/sederajat di Enrekang. Masing-masing adalah buku Tandung Mataranna Massenrempulu, Macora dan buku berjudul Obor Terang.  Yang mengesankan karena ketiga buku berbahasa daerah Enrekang ini telah menjadi hak cipta St Rahmatia dan dipatenkan melalui Keputusan Departemen Hukum dan HAM (saat ini Kemenkumham, red) pada Maret 2008 lalu.

"Saya mengurus sendiri lisensi hak cipta itu ke Jakarta. Saat ini tiga buku itu telah digunakan sebagai panduan untuk muatan lokal di hampir semua sekolah di Enrekang," kata Rahmatia, sembari memperlihatkan sertifikat yang dikeluarkan Depkum HAM tahun 2008 itu. 

Dengan hasil karyanya itu, Rahmatia mengaku seharusnya bisa mendapat nilai lebih setelah sejak 2003 lalu berbagai karyanya dijadikan panduan di sekolah-sekolah. Mulai dari buku pelajaran sejarah Enrekang maupun aksara lontarak Massenrempulu hingga berbagai jenis modul dan LKS berbahasa daerah.

Sayangnya,  dia mengaku prihatin dengan kurangnya perhatian masyarakat terhadap pelajaran muatan lokal saat ini. Karenanya, walau sudah pensiun sebagai guru SD 138 Kulinjang Enrekang sejak 2009, keinginannya yang kuat mengenalkan sejarah Enrekang dan bahasa daerah lontarak Massenrempulu membuat janda delapan anak ini terus berusaha menulis sampai saat ini. 

Walau sekarang dia mengaku karya ciptaannya sudah tidak banyak lagi dan sudah mulai susah dimasukkan ke sekolah-sekolah di Enrekang sebagai panduan pelajaran khusus muatan lokal. Dia hanya berharap terus muncul penulis muda yang lebih kreatif, tajam dan objektif mau bekerja keras menggali sejarah masyarakat Enrekang dan Massenrempulu untuk diteruskan ke generasi selanjutnya.

"Sekarang sangat kurang anak-anak kita yang mau serius mempelajari dan menggali kearifan lokal Massenrempulu. Seharusnya ada generasi pelanjut yang terus menggali sejarah ini dengan banyak membaca dan menulis," katanya, prihatin. 

Sebagai pensiunan guru saat ini, St Ramatia masih kerap meluangkan waktu menghadiri seminar-seminar yang bertajuk muatan lokal, sebagai utusan Enrekang. Termasuk keaktifannya mengikuti Kongres Internasional II Bahasa-Bahasa Daerah Sulsel tahun 2012 yang akan dilangsungkan Oktober mendatang di Makassar.

Atas keprihatinannya terkait kelangsungan sejarah Enrekang dan pelajaran muatan lokal di sekolah saat ini juga mendapat respons dari legislator Enrekang. Ketua Komisi III yang membidangi pendidikan, Ismail Hamid mengatakan, memang seyogyanya terus meuncul generasi penulis sejarah dan kearifan lokal Massenrempulu. Cuma dia berharap penulis yang muncul bisa melalui metode ilmiah dengan menggandeng seluruh stakeholder agar bisa menggali kearifan lokal yang ada di Massenrempulu secara komprehensif.

"Kami melihat saat ini yang muncul adalah tulisan terkait etnis tertentu di Massenrempulu. Belum ada yang secara komprehensif mengangkat nilai ketiga etnis yang ada yakni, etnis Enrekang, Maiwa dan Duri. Itu yang kita harap muncul ke depan," kata Ismail hamid. 

Dia mencontohkan sejumlah karya dari penulis profesional asal Massenrempulu seperti Lontarak Enrekang yang ditulis Prof Dr Syukur Abdullah yang lebih menonjolkan pada kearifan lokal masyarakat Duri melalui simbol persatuan "buah pisang" yang sangat terjaga.

Begitu juga berbagai karya yang dibuat Masallang Pontobalu, salah satunya adalah Lontarak Empatka Puang Pallipada yang berisi berbagai perjanjian persaudaraan antara masyarakat Enrekang melalui raja-raja saat itu dengan kerajaan lainnya di sekitar daerah Enrekang saat itu.

Khusus pada St Rahmatia, dia berharap agar naluri dan gairah menulis sejarah itu bisa diturunkan pada generasi muda Enrekang. 

"Kami di Komisi III Berkepentingan mendorong kearifan lokal ini tetap terjaga dan bisa terus dikenal masyarakat kita. Cuma ke depan seharusnya ada buku atau tulisan yang mencakup tiga etnis itu sebagai pegangan umum. Sebab Massenrempulu ini kita satukan melalui tiga etnis itu," harapnya.

""
Mari berkomentar dengan sopan dan kritik yang bersifat membangun bagi kemajuan blog ini

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 - 2016 SILEWO NEWS
Pengelola Blog Musdalin | Katon