BREAKING

Senin, 11 Februari 2013

Bertahan karena Tidak Terpengaruh Budaya Asing




PILIHAN
 nadanya yang manis, syairnya yang sederhana, musiknya yang harmonis secara simultan membuat lagu-lagu Koes Plus enak didengar dan sukar dicari tandingannya dalam belantika musik Indonesia. Hingga saat ini Koes Plus menjadi kelompok musik paling terkenal dan legendaris di Indonesia.

Ratusan lagu lahir dari kelompok musik ini, dari yang versi pop, pop jawa, melayu, dangdut, pop anak-anak, lagu berbahasa Inggris, irama keroncong, folk song,  dan hard beat ada dalam album-album yang ditelurkan Koes Plus sejak terbentuk di tahun 1960, bahkan belum lama ini namanya diabadikan sebagai kelompok Musik dengan lagu terbanyak di Museum Record Indonesia (MuRI).

Lagu-lagu mereka bukan tipe lagu rumit seperti halnya lagu-lagu tua dari Genesis, Deep Purple atau Queen atau lagu-lagu pop masa kini. Lagu mereka sungguh sederhana baik dalam syair, musik, maupun melodi. Ciri khasnya adalah perpaduan suara antara vokalis dan nadanya. Hingga sekarang lagu-lagu mereka masih tetap digemari. Bahkan banyak dibawakan oleh penyanyi-penyanyi lain dengan aransemen baru dan menjadi tempat mencari sesuap nasi bagi musisi-musisi jalanan maupun musisi-musisi profesional. 

Seperti yang diungkapkan dari personel asli Koes Plus yang tersisa hingga saat ini yakni Yon Koeswoyo. Dia yang berkunjung ke redaksi Harian Fajar, Jumat, 9 November bersama rombongan anggota band Koes Plus terbarunya yang masih fresh-fresh yakni Danang, Sony, dan Seno mengaku sangat terharu jika melihat orang-orang masih banyak yang menyanyikan lagu-lagu mereka bahkan menjadikan sebagai tempat mencari sesuap nasi.

"Banyak lagu-lagu kami yang diaransemen, bahkan menjadikan sebagai mata pencahariannya. Ini menandakan kami masih sangat disayang, masih disanjung walaupun Koes Plus sudah tua bahkan tinggal saya yang tersisa sebagai personel aslinya. Saya sangat terharu melihat kecintaan masyarakat kepada kami," ungkap Yon.

Di tengah perjalan Koes Plus hingga di usia sekarang ini dan memiliki banyak penggemar di segala segmentasi kalangan juga pernah merasakan pahitnya kehidupan bahkan pernah juga dipenjarakan karena dianggap menjadi pelopor musik pop and rock'n roll yang musiknya dianggap mewakili aliran politik kapitalis dan pada saat itu sedang garang-garangnya gerakan anti kapitalis di Indonesia.

"Kami sangat berterima kasih dengan aparat yang memenjarakan kami sehingga membuat kami sadar. Ketika budaya asing masuk ke Indonesia terutama jayanya musik The Beatles kami juga senang mengikuti gaya bahkan selalu menyanyikan lagu-lagu mereka, sehingga kami melupakan keaslian dari Koes Plus yang menasional. Bung Karno pernah memprotes kami, kata dia kok nyanyinya 'Kik Kuk Kik Kuk' melulu keaslian dari Koes Plus sudah hilang, sehingga itu kami dipenjarakan oleh beliau dan membuat kami sadar. Dan terbukti hingga sekarang ini kami masih tetap bertahan karena lagu-lagu kami menasional," kenang Yon.

Bahkan dia juga mengkritisi kondisi musik di tanah air kita ini. Menurutnya, banyak band-band muda berbakat yang dimiliki Tanah Air ini, namun mereka selalu mencontoh grup musik dari luar, dari negara lain. "Kita sebenarnya mesti mencontoh negeri China dan Jepang. Di sana, semua lagu-lagu berbahasakan bahasa asli mereka dan tidak tergurus dari bahasa Inggris. Tidak sama di Indonesia, selalu mencontoh dan mengikuti perkembangan musik dari luar," jelasnya.

Selain prihatin dengan musik di Indonesia, dia juga merasa miris dengan pemerintah yang tidak mau memberikan penghargaan buat musisi-musisi yang telah mengharumkan Indonesia di kancah dunia melalui karya-karya dari para musisi. 

"Kami hanya dipuja masyarakat, berkat mereka kami menjadi band legendaris di Indoensia, namun pemerintah hanya menganggap kami sebagai band-band biasa. Kami ini sudah sepantasnya dijadikan sebagai pahlawan karena telah mengharumkan nama Indonesia," ungkap Yon Koeswoyo.

Sebelum Koes Plus terbentuk, band ini sebenarnya sudah hadir dengan menggunakan nama Koes Bersaudara yang semua personelnya merupakan keluarga Koeswoyo. Namun di Tahun 1969, dengan formasi Tonny Koeswoyo (Lead Guitar , vokal), Yon Koeswoyo (Rhytem gitar , vokal), Yok Koeswoyo  (bass, vokal) dan Nomo Koeswoyo (drum, vokal) sang drummer mengundurkan diri dari Koes Bersaudara dan digantikan Murry sebagai Drum maka band ini berganti nama menjadi Koes Plus.

Walaupun penggantian ini awalnya menimbulkan masalah dalam diri salah satu personalnya yakni Yok yang keberatan dengan orang luar. Nama Bersaudara seterusnya diganti dengan Plus, artinya plus orang luar yakni Murry sebagai drummer. 

Sejak berdiri, Band ini telah melahirkan lagu-lagu yang sangat populer seperti Bis Sekolah, Di Dalam Bui, Telaga Sunyi, Laguku Sendiri dan masih banyak lagi. Band-band lain yang seangkatan dengan Koes Plus seperti Favourites, Panbers, Mercy's, D'Lloyd menjadikan sebagai kiblat. Sehingga band-band ini selalu meniru apa yang dilakukan Koes Plus

""
Mari berkomentar dengan sopan dan kritik yang bersifat membangun bagi kemajuan blog ini

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 - 2016 SILEWO NEWS
Pengelola Blog Musdalin | Katon